Bacaan terbaru

Senin, 13 Juni 2011

DVD player ganti power supply

Sebuah DVD player dibawa ke meja kerja saya untuk diperbaiki, keadaannya mati total. Setelah dibuka langsung kelihatan bagian power supplynya bermasalah, IC power supply yang berupa IC 8 pin dalam 2 baris (DIL) nampak pecah, kasus yang biasa terjadi dalam bidang DVD/VCD. Solusinya ganti saja itu modul power supplynya, tetapi terlebih dulu dicek bebannya (MPEG), jangan-jangan antara B+ dengan groundnya short. Dengan ohmmeter x10 probe merah di ground dan probe hitam di jalur B+ bisa diketahui short tidaknya itu MPEG. Ternyata hasil pengecekan menunjukkan tidak ada kelainan.

Di toko ada banyak pilihan modul power supply DVD, jadi tinggal milih mana yang kira-kira paling cocok ukurannya. Kalau yang persis sama jarang adanya. Setelah dapat yang cocok lalu dipasang, kabel-kabelnya ternyata ada yang perlu dipindah letaknya. Dalam hal ini perlu cermat penempatannya dengan berpedoman pada tulisan yang tertera pada PCB. Keliru bisa berakibat fatal.

Setelah yakin benar semua lalu dicoba dihubungkan ke listrik, tanpa beban dulu untuk mengecek normal tidaknya. +5V dan +12V diukur normal, selanjutnya beban dihubungkan, DVD dinyalakan, langsung hidup, dikasih disk VCD juga jalan normal, alhamdulillah, tetapi baru sekitar 3 menit mendadak 'jret!!!' sekringnya memercikkan api, putus, dan mati total lagi. Waduh, baru berapa menit kok sudah alamarhum. Saya cek itu power supply, sekring putus, transistor powernya short, nomornya DD2335. Ah, coba aja ganti dengan MJE 13005 yang harganya paling terjangkau. Sekring saya sambung pakai 'satu ler' isi kabel dengan disolder. Terus dicoba, kosong dulu tanpa beban, hasilnya normal, tegangan 5V dan 12V keluar. Kemudian beban dipasang dan player pun hidup normal, satu menit, tiga menit, seperempat jam, setengah jam, satu jam normal. DVD saya matikan dan dicek panasnya, sepertinya sudah wajar-wajar saja. Akhirnya perbaikan pun selesai.

Pelajaran yang bisa diambil adalah saat membeli modul power supply DVD ada baiknya juga jaga-jaga transistor penggantinya, misalnya pakai alternatif transistor MJE 13005 tersebut, sebab belum tentu transistor bawaannya bisa dipercaya.

Jumat, 10 Juni 2011

TV Hitachi CPT 1451-101 bocor flyback

Satu pengalaman menarik menangani sebuah TV 14 inchi, TV Hitachi CPT 1451-101 dengan kerusakan suara gemeretak sambil kebul-kebul berasap. Setelah dibongkar tutup belakangnya terlihatlah trafo flybacknya bocor, apinya keluar dari body FBT tersebut menghanguskan benda-benda di sekitarnya.

Langkah pertama mesin saya bersihkan, kemudian periksa komponen-komponen yang hangus, body flyback nampak berlubang dan beralur akibat lidah api yang menyembur, beberapa R dan Dioda di sekitarnya hangus. FBT saya lepas, nomor serinya 2435522, data pinnya dilihat dari bawah dari kiri ke kanan searah jarum jam: C, GND, +25V, +200V, +B, HEATER, ABL, +14V, NC, NC. Kemudian periksa lebih lanjut komponen di sekitar flyback tersebut, yang rusak saya ganti, ada beberapa R, Dioda, dan Elco yang hangus. Juga solderan-solderannya di'update'. IC yang terdapat pada TV tsb: IC Vertikal LA7837, IC chroma: HA7680, IC program: M37103M4-658SP, IC Regulator: STR6601.

Selanjutnya pelajari FBT tsb, kira-kira baiknya diapakan, yang empunya minta diganti saja. Karenanya coba 'hunting' ke toko, sebelumnya cari tahu dulu data persamaannya kalau-kalau yang persis tidak ada. Ternyata persamaannya adalah HR-7352. Tapi apes, sudah ke sana kemari belasan toko dimasuki, nihil, tak ada yang stok kedua nomor tersebut, huh, buang-buang bensin dan biaya parkir aja.

Jalan keluar lain ditempuh, mungkin perlu dibandrek, diganti dengan tipe lain, tapi bagaimana kalau coba ditambal dulu? Karenanya saya lalu ke toko besi membeli Plastic Steel (epoxy). Kemudian flyback dibersihkan sebersih-bersihnya, plastic steel dikeluarkan dari tubenya, terlebih dulu dicek pakai ohmmeter x10K untuk meyakinkan bahwa memang bahannya betul-betul isolator. Saya pernah punya pengalaman dapat plastic steel yang bahannya agak menghantar, jadinya kalau buat menambal flyback malah tambah rusak.

Plastic steel putih dan hitam dicampur, diaduk hingga merata kemudian dioleskan ke bagian FBT yang bocor tersebut, ratakan pakai tangan biar betul-betul kokoh tambalannya, tunggu sampai keras kira-kira lebih dari 5 menit. Setelah itu FBT coba dipasang dan TV dinyalakan, alhamdulillah flyback bisa bekerja kembali tanpa ada kebocoran.

Layar TV menyala tapi gambarnya rolling dan menyempit atas bawahnya, berarti bagian vertikalnya bermasalah. Saya cek pakai solder di solderan-solderan sekitar IC vertikal, ternyata keluar asap dengan bau khas, pasti ada elco yang bocor, jadi babat saja elco-elconya diganti elco baru. Setelah itu dicoba, gambar sudah normal, tapi eit......, ternyata IC vertikalnya baru sebentar sudah panas sekali, apalagi ya? Dengan ohmmeter saya cari-cari sebabnya, ternyata bagian kosong PCB sekitar ICnya jika ditest dengan ohmmeter x10K jarumnya bergerak sedikit, artinya cairan elco yang bocor tersebut telah mengotori daerah sekitarnya dan mengakibatkan short.
Dengan kuas yang dibasahi air saya bersihkan kotoran bekas elco tsb, kemudian dikeringkan pakai hair-dryer. setelah kering ditest lagi pakai ohmmeter, ternyata sudah tidak menggerakkan jarum, jadi TV sudah berani dicoba lagi. Satu menit, dua menit, lima menit, sepuluh menit, satu jam, normal aja tuh panasnya. Alhamdulillah perbaikan TVpun akhirnya selesai.

Kamis, 02 Juni 2011

TV Digitec boros speaker

Hari tadi saya sempat geram menghadapi TV Digitec Super Ninja 14' yang berada di meja kerja. Ceritanya TV yang bikin kesal tersebut datang dalam keadaan mati total, setelah dibersihkan dan disolder ulang TV bisa hidup, kelihatannya normal-normal saja, gambar normal suara normal, tetapi kemudian setelah beberapa menit suaranya hilang. Saya cek speakernya ternyata mati semua, kiri kanan semua putus. Mungkin memang sudah mau putus karena sudah tua, begitu pikir saya. Speaker saya ganti, langsung suara normal tetapi tak sampai satu menit, suara mati lagi. Lho ? Saya cek rangkaiannya, apanya yang bermasalah ya? Sepertinya tegangan IC audionya biasa-biasa saja. Saya solder ulang dan saya bersihkan lagi, saya cek lagi tegangan pin-pin ICnya, saya yakin normal dan sesuai dengan skema. Lalu saya coba dengan speaker lain. TV hidup normal, suara normal, tapi tak sampai satu menit, suara hilang lagi, saya cek speakernya, waduh, mati lagi speakernya, ampunnn.

Saya lepas elco 470u/25V di bagian output IC audionya, saya test pakai ohmmeter, jarum menyimpang ke kanan lalu balik lagi, biasanya begini kan normal to? Saya bandingkan dengan elco yang baru, apa bedanya? Sepertinya tak ada beda. Tapi tak ada salahnya kalau diganti baru, makanya elco 470u/25V yang baru itu yang saya pasang. Lalu saya coba lagi pakai speaker lain, saya tunggu sambil dag-dig-dug. Satu menit, dua menit, lima menit, setengah jam, satu jam, dua jam, baik-baik aja tuh. Lalu speaker saya ganti yang baru lagi. TV saya hidupkan seharian, normal-normal saja. Wah rupanya biang keroknya itu si elco 470u/25V di output audionya. Kok bisa ya?

Rabu, 01 Juni 2011

Mengganti trafo flyback TV Digitec Sumo

Sebuah TV Digitec Sumo 14' yang saya tangani hari kemarin mengalami kerusakan bagian trafo flybacknya, body trafo tersebut nampak pecah dengan bercak-bercak hangus. Jalan keluarnya ganti flyback. Serinya FCK 14A006. Data pinnya dari kiri ke kanan searah jarum jam dilihat dari bawah : ABL, NC, GND, 180V, 16V, HEATER, 24V, ABL, B+, C.

Tidak sulit mendapatkan gantinya di toko, mengganti flyback TV Digitec Sumo juga bukan hal istimewa, tetapi yang menarik untuk ditulis adalah liku-liku pengalamannya, "begini lho kalau yang buat ngganti tidak ori", kira-kira begitu uneg-unegnya. Umumnya yang tersedia di toko adalah trafo flyback yang tidak original, karenanya diperlukan keahlian tersendiri. Dari toko ke toko walau sama-sama stok ada, barangnya merknya sama, tapi harganya ternyata sangat bervariasi. Selisih harga tidak hanya dalam ribuan tapi juga dalam puluhan ribu, heran juga saya, di kota saya, antara toko yang pasang harga termurah dengan yang termahal ternyata bisa selisih Rp 17.500, bisa buat beli bakso berapa mangkok coba?.


Setelah membeli trafo flybacknya tidak lupa beli pula komponen pendukungnya. Sejauh pengalaman saya, mengganti trafo flyback dengan yang tidak original selalu membawa dampak kelainan, karenanya langsung saja antisipasi, beli juga R 10 ohm 2 watt, R 3,9 ohm 2 watt, C 334/250V dan C 824/250V. Untuk yang terakhir ini ( 824/250V ) di daerah saya agak susah, yang mendekati tapi mudah adalah C 105/400V.

Setelah FBT baru tsb dipasang sabar dulu jangan langsung dinyalakan, lepaskan dulu socket CRT, dan lepas pula solderan B+ IC vertikal dan dikasih beban R kira-kira 1K-15K, lalu teliti lagi apakah semua oke. Setelah yakin baru TV dinyalakan dengan kondisi socket CRT terlepas tersebut. Kemudian ukur tegangan yang keluar dari FBTnya, keluaran Heater berapa dan untuk vertikal berapa. Jika sesuai ketentuan berarti aman, tetapi biasanya yang saya alami adalah tidak normal. Untuk heater biasanya normal sekitar 6V AC, jika kebesaran R heaternya diganti yang lebih besar (pakai 3,3 ohm 2 watt tadi). Untuk vertikal kebanyakan tegangannya terlalu tinggi hingga sekitar 30V, karena itu ganti R antara FBT dengan diode rectifiernya, yang semula 0,56 ohm 1/2 watt diganti dengan 10 ohm 2 watt tadi, tetapi jika tegangan vertikalnya kurang tinggi maka pasang saja beberapa lilitan kabel di ferit FBT dan ujungnya solderkan ke tempat R tersebut.

Jika kedua hal ini sudah beres baru socket PCB CRT dipasang dan IC vertikal disolder lagi. Lalu dicoba, apa langsung bagus? Biasanya belum, seringkali gambar menjadi kebesaran, kiri kanan ada bagian yang 'mingslep'. Di situlah peran kapasitor 105/400V tadi, kapasitor yoke yang biasanya berukuran 560n/250V diganti dengan yang lebih besar agar gambarnya mengecil. Sebaliknya jika setelah ganti FBT malah layar jadi kurang penuh maka C 560n/250V tersebut diganti dengan yang lebih kecil, misalnya 334/250V.

Kurang lebih begitulah liku-liku masalah penggantian flyback TV.

Sabtu, 28 Mei 2011

Panasonic TC-2088MF kena petir

Beberapa hari yang lalu di kampung tetangga saya ada petir menyambar di perkampungan. Akibatnya banyak terjadi kerusakan, dari pohon yang mati tersambar, ikan di kolam juga ada yang mati, dan yang paling terasa adalah alat-alat elektronik rusak. Salah satunya adalah yang saya ceritakan ini, sebuah TV Panasonic 20 inch seri TC-2088 Quintrix-F series.

Jika diingat-ingat sepertinya sudah ada lebih dari 30 TV kena petir yang saya perbaiki selama beberapa tahun dari lebih dari lima kali kejadian sambaran petir. Berdasar pengalaman itu saya suka bertanya pada yang empunya tentang saat kejadian petir menyambar itu posisi TVnya sedang bagaimana, apakah sedang hidup (ditonton), sedang mati tetapi jack listrik tertancap di stopkontak, atau keadaan mati tak terhubung ke saluran listrik. Dari situ pula saya punya kesimpulan pribadi bahwa TV yang posisi mati tetapi colokan listriknya tersambung ke stopkontak adalah yang terparah kerusakannya (....kesimpulan bodoh mungkin he3, jangan dipercaya dan jangan diikuti.....), saya juga punya pendapat bahwa saat cuaca buruk jika ada orang mematikan TVnya dengan mematikan saklar powernya saja adalah suatu kesalahan fatal, berarti dia mempersilahkan petir menghabisi TVnya. Lain halnya jika mencabut kabel listriknya, lebih baik lagi beserta kabel antenanya, itu adalah tindakan paling baik yang dapat menyelamatkan TVnya. Dan pilihan ketiga adalah tetap tenang-tenang menontonnya, ini biasa dilakukan keluarga saya, sekali lagi, jangan ditiru ya, jangan pula dibenarkan.

Dulu, saat rumah tetangga saya disambar petir hingga atap kamar mandinya bolong, peralatan elektronik di 3 RT hampir semuanya rusak kecuali beberapa saja, salah satunya adalah TV saya, padahal saat itu sedang ditonton. Waktu itu sekering listrik di dinding hancur, tapi TVnya selamat. Fenomena itu menarik, beruntung selanjutnya ada beberapa kejadian sambaran petir di berbagai tempat, kesimpulan saya makin menguat, bahwa saat terjadi sambaran petir masih lebih aman tetap menontonnya daripada mematikan TVnya tetapi hanya mematikan saklarnya saja. Dalam kejadian-kejadian selanjutnya, saat ada sambaran petir seakan-akan di belakang TV saya yang sedang ditonton itu ada bunyi 'cetek !' bersamaan dengan kilat, biasanya diikuti listrik mati, kadang memang listrik PLN yang mati total, tapi kadang pula sekring listrik rumah saya yang putus. Setelah listrik hidup, TV dihidupkan lagi biasanya normal tak ada kerusakan apa-apa. Mudah-mudahan tidak dibilang nantang petir, tapi seandainya TVnya kena, kan yang disediakan di toko buat ngganti ada banyak sekali, tinggal punya duit nggak, he3, sekali lagi jangan ditiru.

Kembali ke cerita tentang Panasonic TC-2088MF tsb, katanya saat kejadian itu seisi rumah sedang pergi, tapi kondisi TV dimatikan, dengan kabel listriknya tetap terpasang di stop kontak. Nah, dengar ceritanya saya sempat grogi, jangan-jangan cuma buang-buang tenaga dan waktu saja. TV saya bongkar, saya lihat PCB bagian bawahnya, benar saja, jalur-jalurnya banyak terkelupas, terutama sekitar regulator. Data komponennya: IC chroma M52770ASP, IC program MN1873284TG, IC regulator STRF6654, IC Vertikal LA7840, penentu B+nya SE90, FBTnya TLF4N052. (Ternyata antara Panasonic TC-2088MF dengan TC-2088CDD mesinnya beda jauh ya). Untuk memulihkan regulator rasanya sudah terlalu memusingkan karena sudah amburadul, mending pakai modul Astello saja. Selanjutnya pencarian kerusakan berlanjut, ternyata dioda-dioda zenernya nyaris habis short semua, juga transistor-transistor kecil di sekitar optocoupler. Dengan ketelatenan akhirnya membuahkan hasil juga, untung ICnya yang rusak hanya bagian regulator (STRF6654), sedang IC bagian lainnya selamat. alhamdulillah, akhirnya TV bisa hidup kembali.

Kamis, 26 Mei 2011

TV China, warna merah hilang timbul

Dapat kerjaan menyervis sebuah TV China dengan gejala kerusakan warnanya berubah-ubah. Jika dicermati nampak jelas dari antara ketiga warna RGB kadang-kadang warna merahnya hilang, kemudian muncul lagi, hilang lagi, dst dengan pola waktu yang tidak teratur. Kadang lama normal, kemudian mendadak hilang sekejap, lalu normal lagi. Tapi kadang pula sebaliknya, hilang merahnya lama, kemudian mendadak normal, dan selanjutnya hilang lagi merahnya.

Apakah mungkin hanya solderan kendor? TV saya bongkar, saya hidupkan terus saya goyang-goyangkan mesinnya, saya ketuk-ketuk pakai gagang obeng trim pelan-pelan, siapa tahu masalahnya cuma karena ada yang kendor. Hasilnya, tak ada perubahan. Selanjutnya, seperti biasa mesin TV saya bersihkan, lalu teliti keadaan fisik komponen, kemudian lakukan penyolderan ulang mana-mana yang sudah nampak perlu disolder. Hasilnya, belum ada perubahan juga.
Kemudian dengan Voltmeter saya ukur tegangan Katoda (RGB) di PCB belakang layar sambil melihat bayangan TVnya di cermin. Di situ tegangan pada RK (katoda merah) terukur 165V saat warna merah hilang, dan 110V saat warna normal, jelas problem di daerah ini. Selanjutnya ukur tegangan RGB pada input blok PCB belakang layar tsb, ternyata ketiganya seimbang yaitu sekitar 3,5V, kesimpulannya: masalahnya tidak di IC chroma. Lanjutkan pengukuran dengan mengukur tegangan basis emitor pada TR Video Out penguat warna merah, probe hitam tester di E dan probe merah di B, saat warna normal tegangan BE normal sekitar 0,5V, tetapi saat merahnya hilang tegangannya naik menjadi sekitar 5V. Kesimpulannya, pasti TRnya rusak. Nomor serinya C2482. Penggantian TR ini langsung mengatasi masalah, warna gambar jadi normal lagi. Alhamdulillah.

Selasa, 24 Mei 2011

Polytron DIVA PS 52UV25B mati standby

Kemarin saya dipanggil ke kampung sebelah untuk menyervis TV, sebuah TV 21' layar datar merk Polytron DIVA series. Gejala rusaknya jika dihidupkan bisa hidup sebentar sekitar beberapa detik kemudian mati standby, jika ditekan tombol channelnya, TV hidup lagi, lalu mati lagi, tekan lagi hidup sebentar, mati lagi.

TV saya bongkar, saya amati dalamnya, kotor berdebu. Saya bersihkan pakai kuas sambil ditiup pakai hairdryer. Setelah bersih saya amati lagi. ICnya pakai HBT-01-01G, IC vertikalnya STV9325. Banyak solderan yang nampak sudah perlu solder ulang, karena itu kemudian saya lakukan penyolderan ulang. Setelah saya rasa cukup lalu saya bersihkan sela-sela solderan yang rapat pakai ujung cutter. Setelah mantap TV saya coba, eh lha kok kebul-kebul berasap, asalnya dari IC vertikal. Karena itu IC vertikalnya, STV9325, saya ganti, kemudian teliti lagi barangkali ada yang salah. Setelah mantap saya coba lagi. TV masih tetap seperti semula, hidup sebentar lalu mati lagi. Apanya ya? Karena mrotek atau karena Power supply yang kurang sempurna? Jika karena mrotek mungkin bisa diatasi dengan mengganti C402 1u/50V di rangkaian vertikal, tetapi jika masalah power supply mungkin di bagian tegangan 50V-nya yang problem.

Untuk menjawab masalah itu saya pakai cara ganti saja kedua elconya sekaligus, yaitu C402 1u/50V di rangkaian vertikal, dan C505 47u/63V di bagian B+ 50V saya ganti dengan yang lebih besar sesuai dengan stok yang saya bawa yaitu 100u/160V. Hasilnya TV langsung bagus. Alhamdulillah.